Showing posts with label pensieve. Show all posts
Showing posts with label pensieve. Show all posts

Sunday, March 28, 2010

Agen Jamu Gendong (Bahagian Satu)

Dokar yang dikusiri Pak Min menyusuri jalan berbatu. Juminten lega sewaktu dokar itu berhenti tepat di depan rumahnya. Seperti rumah-rumah di sekitarnya, rumah Juminten juga berpekarangan luas. Beberapa pohon rambutan di sebelah kiri depan rumahnya membentuk bayangan yang membuat pekarangan itu lebih sejuk. Juminten dengan lincah turun dari dokar. Pak Min membantu menurunkan bakul besar berisi botol-botol kosong wadah dagangannya. Jamu-jamu racikannya selalu habis tak bersisa. Juminten membuka kantong uang yang diselipkan di dadanya, dan memberi beberapa lembar uang ribuan buat membayar ongkos dokar Pak Min.
Juminten berdiri beberapa saat di depan pintu rumahnya, sementara Pak Min pergi setelah menerima ongkos. Sepi. Hanya ada suara gemerisik daun yang di tiup angin. Jumi heran, kok suasana sepi. Meski rumahnya tergolong di pedesaan, tapi suasana nggak pernah sesepi ini.
Jumi masih sibuk nyari kunci rumah yang diselipkan di kembennya sewaktu Yu Lasmi tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Samiun bilang sampeyan baru pulang naek dokar. Lah sampeyan iku wis dak enteni. Akhirnya sampeyan pulang juga."
"Ono opo toh Yu? Keliatannya kok penting."
"Lah biasa Jum. Aku ono dagangan."
"Tapi pesananku udah ada toh Yu?"
"Bueres bueres... Ayo masuk ke rumahmu dulu!"
Juminten segera membuka pintu rumahnya. Rumah itu nggak terlalu besar. Ruang tamunya hanya ada dipan bambu yang juga difungsikan sebagai tempat duduk, meja kayu yang ujung-ujungnya udah di makan rayap, dan lemari reyot untuk meletakkan beberapa benda nggak penting. Juminten dan Yu Lasmi masuk lalu mengunci pintu dari dalam. Jumi segera berjalan ke arah samping lemari. Ada tuas tersembunyi di belakang lemari itu. Jumi menariknya perlahan. Seketika lemari itu bergeser dan tampak tangga di lantai menuju ruangan lain yang lebih luas di bawah tanah.
Ruangan itu penuh alat-alat elektronik untuk spionase. Satu lemari besi penuh senjata. Dan laboratorium kecil di salah satu sudutnya. Botol dan galon berisi bahan kimia tersusun di rak besi yang menempel di dinding.
"Mana barangnya Yu?"
Yu Lasmi mengeluarkan botol spray kecil dari belahan dadanya lalu menyemprotkan ke sekitar genggaman tangannya. Beberapa detik kemudian tas besar yang tadi tembus pandang berangsur-angsur terlihat. Yu Lasmi segera mengeluarkan barang-barang yang ada di dalamnya.
"Ini bahan-bahan kimia pesenanmu."
"Trus barang yang lain kuwi opo toh Yu?"
"Ini namanya The Invisible Sarong. Sampeyan bisa ngilang kalo pake sarung ini. Tinggal krukupan langsung ilang. Kalo di buka, sampeyan langsung mak jedundung. Terlihat lagi."
"Nah kalo ini?" Jumi mengambil salah satu barang yang mirip jepit rambut, membalik-balik sambil keheranan.
"Haduuuuh...jangan sembarangan ngambil toh! Itu senjata laser." Yu Lasmi memperagakan cara pemakaiannya ke Jumi. Cahaya hijau keluar dari ujung yang runcing saat jepit rambut itu di tekuk melengkung ke arah berlawanan. "Ini senjata berbahaya. Luka yang diciptakan nggak akan mengeluarkan darah. Bisa memotong tubuh manusia dengan sekali gerakan. Sampeyan mesti hati-hati. Kalo ini peniti yang bisa digunakan untuk pemindai DNA. Tinggal tempel ujung jarum peniti lalu data akan di proses. Benda ini sangat sensitif hingga bisa mengenal DNA dari sel kulit yang terurai."
"Alon-alon Yu jelasinnya! Datanya keluar dari mana? Lah penitinya seiprit gitu."
Yu Lasmi nyengir kuda. "Makanya Jum, ojo kakehan ngolah jamuuuu ae! Langsung test drive aja ya!"
Yu Lasmi menempelkan ujung peniti di di kulit tangan Jumi.
"Adoooooooh!!!!"
"Hehehe... sorry Jum, keblabasen."
Beberapa detik muncul layar tembus pandang di atas peniti itu. Menunjukkan struktur gen Jumi beserta data lainnya.
"Wuaaah hebat-hebat...!" Jumi takjub setakjubnya. "Lainnya masih ada Yu?"
"Ada. Ini buat kambing pelacakmu. Kambingmu iku isih urip khan Jum? Kok aku ndak tau krungu suarane."
"Hidup Yu. Sehat kok, tapi kemarin giginya sempet sakit."
"Oooo...makanya diem aja. Ini klintingan buat dia. Chip di dalamnya bisa mengubah suaranya sedemikian rupa hingga sampeyan bisa paham apa yang di katakan kambing sampeyan kuwi. Jadi sampeyan ndak perlu bingung kalo dia mbeeek mbeeek terus."
"Asyik bisa di ajak ngobrol kalo malem lagi kesepian hehe..."
"Barang lainnya ada kemben anti peluru sama kutang glow in the dark. Oia, ini ada surat dari bu Lurah Misnah. Ada misi lagi kayaknya buat sampeyan."
Juminten membuka sumbat yang menutup tabung bambu lalu dikeluarkan lembaran daun lontar.
Paling atas tertulis :

"Kasus Penculikan Muchikarie Desa Gondanglegi"


....Selanjutnya saya serahken kepada saudariiiiii Eee...luuuuuuush. Waktu dan tempat saya persilahken!

Marley (akhirnya tamat sudah,,,)

Gw udah di ambang pintu, tapi tiba-tiba aja inget sesuatu. Lebih baek gw nggak lari begitu aja. Staf security gedung udah ngeliat gw datang tadi, bisa-bisa gw yang dituduh bunuh Rinto. Damn!
Gimana neh? Siaaaaaaaaaaaaal... Awal karir bikin depresi malah ditambah kasus bunuh diri pula. Sekalian gw ditelen Dio aja kalo tau jadi kaya' gini.
Hmmm itu pasti kamera. Kenapa ada kamera pengawas di sini? Hei...di kamar pribadi Rinto juga. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya ini tempat tinggal pribadi? Kenapa harus begitu banyak kamera pengawas di sini? Mungkin gw perlu liat rekamannya. Hmmm paling tidak gw harus tau apa yang sebenarnya terjadi. Gw butuh script sialan itu. Kalo script itu harus sampe ditahan pihak yang berwajib untuk barang bukti, filmku bakal tertunda entah sampe kapan.

Mayda menatap ke arah kamar mandi yang pintunya masih terbuka. Dia nggak mau mengotori TKP dengan sidik jari, atau rambutnya, atau apapun itu yang bisa menunjukkan DNA-nya dikenali. Untung saja di rangselnya ada kantong plastik yang cukup untuk membungkus telapak tangannya.
Dia langsung mencari ruang yang dijadikan Rinto untuk menyimpan kaset rekaman. Dan kaset untuk hari ini harusnya masih terpasang di alat perekam.
Mayda menemukannya lalu memasukkan kaset itu ke VCR yang ada di atas lemari arsip. Diamatinya layar cadangan yang menampikan rekaman itu. Sedangkan layar-layar di sebelahnya masih menampilkan semua sudut ruangan yang ada di apartement Rinto. Rinto masih hidup saat awal video itu aktif. Terlihat Rinto melakukan semua kegiatan rumahnya dengan normal. Setidaknya normal menurut gambaran Mayda. Nggak ada tanda-tanda Rinto akan melakukan tindakan bunuh diri. Apakah ini berarti Rinto di bunuh?
Mayda terus memperhatikan rekaman itu, mungkin ada sesuatu yang bisa menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi juga menunjukkan dimana Rinto terakhir kali meletakkan script yang di carinya.
Dia mempercepat rekaman itu sampai ada seseorang yang datang ke apartment Rinto. Sandra. Sandra terlibat percakapan dengan Rinto, tapi rekaman dari kamera pengawas nggak bisa merekam suara hingga Mayda nggak tau apa yang mereka bicarakan.
Tiba-tiba Sandra mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Berkilat dan tajam. Mungkin cukup sulit bagi Sandra buat membunuh Rinto kalau itu memang tujuannya, tapi rasanya bukan jadi soal karena Sandra mahir bela diri. Mulut Mayda hanya menganga karena takjub dengan apa yang dilihatnya.
Sandra terlihat menyudutkan Rinto ke arah kamar mandi. Sayang sekali sudut kamera nggak bisa menangkap apa yang terjadi kemudian. Setelah beberapa menit yang menegangkan, Sandra keluar dari kamar mandi dengan noda darah di kaosnya. Mimik wajahnya menunjukkan bahwa dia puas dengan 'hasil kerja'nya.
"May..."
Mayda terlonjak karena terkejut. Ada seseorang di belakangnya. Perempuan. Itu adalah suara Sandra. Degup jantungnya semakin cepat. Dan saat Mayda memutar badan untuk memastikan siapa yang datang.
"Kenapa?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Mayda.
"Si brengsek itu sudah menyabotase scriptku. Dan mengubah cerita seenaknya. Gw sudah muak dengan kelakuannya..." Sandra mengeluarkan pisau lipatnya, "Dan sekarang lo juga harus mampus..."

Saturday, March 20, 2010

Marley (10)

“Cukup deh buat hari ini, makasih ya semua!” tidak lupa gue barengi dengan tepuk tangan seadanya.
Pfuhh, hari sialan. Hari ini mesti muter otak sama kru buat nge-twist cerita, masalahnya deadline udah ga bisa ditawar, produser marah-marah, artis resah. Gue yakin ini ulahnya si Rinto. Sejak awal gue udah ga suka sama lagaknya, sok paling berbakat, paling brilian sedunia. Cih. Lo tau ga sih di dunia hiburan gini, ibaratnya lo tinggal nunggu waktu diinjek-injek sama ratusan kuda nil kalo cuma diem di tempat bangga sama diri sendiri. Tapi ngebayangin dinjek-injek kaya gitu jadi merinding sendiri. Hiii..Ngomong-ngomong rokok di mana sih? Hah? Ketinggalan lagi. Mayda, ga fokus deh. Ini gara-gara mimpi aneh semalam. Gue mimpi ada sesuatu dalam tubuh gue...

Drrrttt. Drrrttt.

Uhuk! sialan gue kaget. Siapa sih ni. What? Si munyung ternyata.

“Ya mbak retno, gimana?”
“Gimana tadi, udah OK belum? Kita brainstorming lagi deh kalo belum pas, saya ga yakin sama kompetensi kamu, mana tuh si Rinto, scripwriter kita, ilang ga ada ampasnya, bareng scriptnya sekalian, satu pun ga ada yang kesisa. Heran!”
“Ya mbak, saya udah jelasin kan tadi, saya ga tau kenapa bisa begitu, saya udah cari kemana-mana”
“Yaudah kamu cari lah si Rinto, samperin ke apartemennya kek, cari ke tempat tangkringannya kek, kasih tau saya kalo dia udah ketemu”
Klik.
Monyoooong...orang kalo berduit tuh jadi ilang ya sopan santunnya. Hhh..
Rinto, awas lo!

Gue lihat lagi secarik kertas bertuliskan alamat Rinto. Di kertas itu tercetak tulisan lantai 15, kok mau sih milih lantai 15, lantai 15 itu kan pengganti lantai nomor sial. Dannn ngapain juga ya gue mikirin. Kurang kerjaan.
Hmm..mudah-mudahan dia cuma teler abis kebanyakan minum vodka.
Tanpa menunggu jawaban ketukan gue, gue buka pintu, catatan ya, gue bukan biasa nyelonong, tapi emang pintunya ga dikunci.
Keliatannya sepi-sepi aja disini, tapi pakaian bertebaran dimana-mana. Sepertinya ada yang habis bersenang-senang. Wuhuu.
“Hello! Bisa bicara dengan Rinto??”
Ga ada jawaban.
Pasti dia di kamar mandi lagi muntah.
“To’? lo disit...”
Hah!Sial, apa tadi yang gue liat? Rinto mati. Sial. Sial. Sial. Ngapain juga sihh gue harus disini? Oh iya mbak Retno. Kenapaaa siiih gue harus jadi sutradaraaa?
Huekkkss..Gw ga mau lagi balik ke kamar mandi, liat lagi pemandangan menakutkan kaya gitu. Mana ada orang bunuh diri dengan ngeblender tangannya sendiri? Huekkks. Gue harus cepet-cepet pergi dari sini. Script mana? Sidik jari gw! Sial. Sial. Sial. Mayda think, think.
Eh? Apa itu? Ada kertas, keliatannya tintanya masih segar.
Surat bunuh dirikah? Atau clue menuju script? Mending cepetan diambil deh.

Appaaaan ini bacanya?


Gue tau siapa yang bisa baca ini. Dan sekarang gue harus, lari.

*Ziiing..*

-mbak Riee, hayo selesaikeennn-

Wednesday, March 17, 2010

marley 9999999

"marley.. marley.. bangun dong..."

wuffff! Luina menyalak lembut, menjilat-jilat wajah marley dari pipi ke kupingnya. Perlahan Marley membuka mata, lidahnya menjulur keluar lalu mulai bicara..

"abuh..aqhu qenafha fhayang... yemath thekayi yafhana..."

"ih ayang, kalo ngomong lidahnya dimasukin dulu dooong... hihi... gemesin deh.."

"thoyong..."

"manjaaa.. hihihi, sini sayang" kekeh Luina sambil menggerakkan kedua kaki depannya memasukkan lidah Marley ke dalam sarangnya.

"Luinawatiiiii..." dua pudel tetangga mendekat.

"eeeh.. ciiii, banciiii, tumben belindilwati dan nyonya maen kemali... hihihi..."

"ahaha.. sibuk aye neeeng, lah Li, kenape lu, melet-melet aje lu ke gue"

"hihihi.. nggak tau tu ndil, tadi juga aku uda usaha masukin balik ke mulutnya pake kaki.. eh.. ngejulur lagi..."

"iiih... kagak lomantis deh weiche, use your tongue doooong... apa mau gue yang nyontohin???"

"hiiiiihhhhhhhh, mayeeeesh" Marley yang dari tadi masih lemes langsung njenggirat menjauhkan blindilwati sambil akting muntah-muntah.. *njenggirat bahasa indonesianya apaan yah?*

"bwaahahahhahahahah, wuff, wuff...." Luina tergelak melihat kelakuan 2 makhluk di hadapannya. Tawa itu bergema di relung jiwa Marley, matanya berbinar-binar dengan lidahnya yang masih menjuntai...

CUT!

lalu...

Siappppppa yang mengisi suara Marley? Bukankah Mayda diculik Alien pohon pisang?? AAAAppppaaa yang sebenarnya terjadi dengan Mayda??? APPPakah Dio memasuki tubuhnya???? atau semua hanya mimpi? siapa yang bisa menjawabbbnya??? siapa???? siaaappaaaaa??? sssiaaappppppaaaaa???

hosh... hosh... hosh...

kak siska, jawab yah?

Monday, February 22, 2010

Marley VIII

GRRR—AHHH!! GRRRR…
Geraman-geraman terngiang-ngiang di kepalanya yang makin terasa pusing. Setengah mati Mayda berusaha tetap sadar. Atau malah dia memang sudah mati?
“Pliz.. jangan mati dulu..itu si Sandra masih ngutang pulsa banyak banget ma gue..dan gue uda beli tiket bulan madu ma Lulu ke Bali.. anjing! Jangan mati duluuuu… annnn-!”

Tuuut-tuut-tuuuttt…

Ah mati. Ponselnya mati. Padahal ia sudah bilang pakai saja Xelon lain dan bukan dirinya. Ia tak ahli membedah dan hanya ingin mengorek bangkai, bukan yang masih berdegup seperti ini. Jing lalu menghela nafas dan kembali ke meja operasi. Kembali menghadapi seonggok makhluk yang mau tidak mau akan jadi induk semang Dio.
“Belum selesai juga?” tiba-tiba sebuah suara menegurnya. Suara yang sangat ia kenal. Datar tenang dan meruapkan kepongahan yang luar biasa di tiap jedanya. Ia selalu menyunggingkan senyum jahat hingga taringnya selalu tampak lebih sombong daripada dirinya.
“Belum, Re.. aku tidak tahu apa dia bisa tahan dengan Dio” Jing memasukkan ujung sulurnya lebih dalam lagi untuk mengambil benda kecil yang kini terselip di saluran trachea manusia yang masih bersimbah darah itu.
“Buat dia tahan. Kalau perlu aku akan memberikannya cairan itu agar kali ini manusia itu bisa berguna”
Jing hanya bisa menggerakkan tangkai-tangkai putik di atas kepalanya yang bewarna ungu pucat. Ferre lalu menyunggingkan senyumnya lagi lalu berjalan menembus pintu.
Dio dalam tabung kaca sudah berulangkali berganti wujud. Sebentar besar. Sebentar kecil kembali. Sulurnya mulai tumbuh sepanjang tungkainya dan mulai memilin-milin. Selama itu pula ia berusaha memecahkan kaca tabung, penasaran setengah mati pada apa yang sedang dikorek-korek Jing. Ia memutar-mutar telinganya yang berbentuk bunga dan menempelkannya ke kaca tabung. Berusaha mencari tahu dan mengenali degupan si manusia yang katanya telah membuatnya hidup.
Kening Jing yang juga kelopak dari kepalanya berkerut-kerut dan berlipat-lipat. Ujung sulurnya telah berhasil menemukannya. Begitu ia cabut keluar benda putih berkilat itu, seketika itu juga manusia itu membuka matanya dan,
“EMAAAAAAAK!!!!”
Manusia itu terduduk dengan nafas memburu. Matanya berkerjab-kerjab lalu menyadari sesuatu berdiri di sisinya, ia pun menoleh. jing masih mematung.
“err.. Pohon pisang...ungu?” Mayda bergumam setelah dengan setengah sadar ia menganalisa Jing dengan kelopak ungu di kepalanya.
“Bukan. Saya salah satu dari sembilan Xelon di sini.”
“Pohon pisangnya bicara!” seru Mayda.
“Bu..kan..di..a..bu..kan..po.pisa..ng” Dio tiba-tiba saja sudah melayang terbang mendekati Mayda.
“Ah! Setan kecil yang tadi!” Mayda mengenali tubuh kecil makhluk di hadapnnya dan telinga bunga merah mudanya. Makhluk kecil itu ijo muda dan berbulu-bulu lembut di seluruh tubuhnya. Di ujung-ujung jarinya tumbuh sulur-sulur tipis yang menggulung-gulung menyerupai jari. Dan senyum manisnya yang canggung terlihat sama seperti ketika ia mengucap sesuatu yang aneh sebelumnya.
“Dio, kurasa dia belum siap. Kembalilah ke tabungmu” ucap Jing sambil menunjuk ke arah tabung besar yang kacanya pecah sebagian. Dio menggeleng-geleng. Sulur di ujung jarinya menebal dan meruncing. Dua bola mata Dio yang bersinar kuning menatap lurus ke dalam mata Mayda hingga gadis itu merinding ngeri. Tubuhnya terasa terpaku dan ia baru merasakan semilir wangi amis darah dan ketika ia mengikuti baunya, sadarlah ia kalau rongga dada sampai perutnya terbuka. Ia terbelalak melihat isi dari tubuhnya sendiri dan ingin berteriak sekuatnya tapi tak mampu. Rahangnya kaku dan tenggorokannya kering. Ia hanya bisa melihat dan merasakan apa yang selanjutnya terjadi pada dirinya.
Dio, makhluk aneh kecil yang sebelumnya menyapanya dengan lucu kini menggeram sambil menancapkan sulur-sulurnya ke dalam tubuh terbuka Mayda dengan bertubi-tubi sampai tubuhnya gemetar. Seperti dihujam ribuan pisau, Mayda merasa tersayat-sayat dan terpotong kecil-kecil tiap sulur itu menghujaminya. Dio seperti berpegangan dan menghadap tepat ke dada Mayda yang terbuka. Ia melebarkan celah di wajahnya yang menjadi mulutnya dan menampilkan sederetan gigi-gigi kecil tidak beraturan yang bersimbah liur. Mayda menyumpah serapah sekaligus berdoa kuat-kuat dalam hati. Ia berharap kengerian di hadapannya hanya mimpi. ia bergidik. Tubuhnya lemas dan jantungnya berdegup kencang. Ia melihat Lidah Dio bertotol-totol hitam menjulur-julur siap bekerja. Mulut itu terbuka lebar dan semakin mendekat. Dekat. Dekat ... dan..

Wednesday, February 10, 2010

Marley VII

"mati gw,mati gw matiiii" pikir Mayda berulang kali. Dalam bayangannya, cairan lengket berwarna merah ini pastilah darah! "Daraaaah!!!Oh Tuhan,kenapa sekarang? Kenapa disaat karier gw baru mau dimulaaaaai,kenapose Tuhaaaan?Kenaposeeeeeee???????!" dan dengan meyakini bahwa cairan yang membasahi dadanya adalah darah, perlahan tapi pasti, Mayda pun menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai, "dingiiiin..Begini ya rasanya mati?Oh Sandraaaa, traktiran pecel ayaaaam, ooooooh.."
dan Mayda pun mendarat sempurna, tergeletak tak berdaya dengan dada dibasahi cairan berwarna merah.." Selamat tinggal dunia.." adalah kata kata terakhir yang terbersit dibenak Mayda.. lalu tiba tiba.. ia merasakan ada sesuatu yang nowel-nowel pipinya, mencet-mencet idungnya,dan ketika rambutnya terasa ditarik-tarik, Mayda akhirnya bereaksi " AW!!!!Sakit bentjong!!!!!!!" dan dihadapannya, berdiri sesuatu.. apa itu? malaikat? ato setan??? dia kecil, berbulu, berbunga! hah? berbunga? " malaikat kok sayapnya gak ada malah numbuhin bunga di telinga? tapi kalo setan..manis amat make hiasan bunga bunga segala????"
lalu.. sosok itu menyentuh cairan merah darah Mayda yang menetes di lantai dengan salah satu tangannya yang berbentuk aneh, menggenapi segala keanehan yang tampak pada dirinya.. menjilatnya,menyeringai lalu berkata.. " Dalah cegaaaal.. Nyahahahahahahahahahaha!" dan tiba-tiba sosok itu terbang menjauh lalu menghilang..
Mayda diam..membeku,entah harus berpikir dan berkata apa selain.. " tadi dia bilang apaan yak? " belum selesai Mayda menemukan jawaban dan maksud dari kata-kata makhluk aneh tadi, dia sudah dikagetkan lagi dengan munculnya suara seseorang yang menggeram keras dari kejauhan, suara yang menakutkan, dan kali ini, benar-benar membuat Mayda beku saking takutnya..

AADM! Alias ada apakah dengan Mayda? Masih hidup ato sudah matikah dia? Siapa sosok kecil yang absurd tadi? Dan apppa yang sebenarnya sedang terjadi iniiiii???????..Em..yang itu, kalimat yang nanya apa yang sebenarnya terjadi itu, pertanyaan pribadi dari aku juga teman-teman, soalnya aku biiingung, jadi ajaib gini yak ceritanya?jiahahahahahahahaha, jadi maaf kalo kalo agak terlalu singkat ya teman temaaaan,lain kali, pasti akan lebih berusaha lagi!..baiklah! ehm ehm, selanjutnyaaa, tanpa harus berbasssa basssi, kittta tampilllnya, berrrrrrrrrrrindiiiiiil waaaaaatiiiiiiiiiiiiii!!!!! tarik tjiiiiiiii!

MARLEY VI

CUT! CUT! CUT!Apa-apaan ini??!!! Monyet semuanya! Yang serius dong ! Lo pada niat kerja ga sih??! Lo thu ngisi suara anjing, anjing! Anjing mau….mau…...

Mau apa, Bos?

Udah bencong, lo diem! Mau gue jadiin monyet juga lo?

"Script! Ganti lokasinya! Gue ga dapet feelnya! Ganti! Ganti! Bubar! Pada ga bisa kerja yang bener! Mau jadi apa film gue! Monyeeeeet!!!"

.........

Mayda keluar tergesa dari studio tempat dia mengisi suara."Monyet! Elo yang monyet!!" Rutuknya dalam hati. Film apaan. Film kartun aja ribet banget. Menyusuri selasar, tangannya merogoh ke kantong celana kargonya, handphone'nya bergetar. Sandra.

"Ya Ndra, gue mau keluar dulu. Capek ngurusin monyet dan anjing"

"Hahaha. May, buruan balik kesini, 5 menit lagi mau take. Juragan monyet mau ngelanjutin adegan marley pengsan"

"aaaaaaah Monyet thu orang! Hhhh. Kalo gue cabs, dia gimana ya? Gue males banget'

"Hehehe. Don't bother to come back here then, darling. Besok lo musti bayar kontrakan, inget? Dan hari ini bayaran. Ayolah, bertahan dulu sebentar. Ntar malem gue traktir pecel ayam deh"

"Hhh. Wauff!"

" Hehehe. Buruan kesini ya?"

Mayda baru akan memutar badan untuk kembali ke studio, ketika mendengar suara isakan dari ruangan property di ujung selasar. Sepertinya dia mengenal suara itu. Dinda. Pengisi suara Sisil.

Mayda memutuskan untuk memeriksa keadaan Dinda. Ia mendekat ke ruangan prop dan mengetok pintu perlahan. "Din… Dinda…lo didalam? Dinda…"

Tak ada jawaban. Isak tetap terdengar.

"Din, gue masuk ya?" kata Mayda sambil mendorong gagang pintu ruangan prop.

Mayda terkesiap, hawa dingin menyeruak dari dalam. Ruangan gelap gulita. Tangan kiri menggapai saklar lampu dan tangan kanan menahan pintu. Drrrt Drrrt. Anjrit! Getar panggilan handphone kantong celana mengagetkannya.

Tangan kanannya melepas gagang pintu merogoh handpone. Klek. Pintu ruangan menutup sendiri. Fiuh. Akhirnya tangan kirinya berhasil menemukan dan memencet saklar lampu. Matanya berkerjap-kerjap dibanjiri cahaya. Didekatkannya handphone ke telinga. Unknown number.

" halo"

"Marleeey…."

Jleb. Dari arah depan, sebuah benda bulat pipih terbang dan mengenai leher Mayda. Sakit sekali.Tiba-tiba dadanya sudah basah oleh cairan lengket merah.

-maulllyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy….goattie. ayo lanjutkan.

Sunday, February 7, 2010

Marley V

"...Maskulin, Harga Diri, Sex, Birahi, Gigolo, Aman, Nyaman, Betina, Luina, Gigolo, Orgasme, Baby Retriever, Gigolo, Family, Jenuh, Penis, Gigolo,Sosis,Hotdog............Noooooooooo!!!! "

dan aku terbangun ngos-ngosan dari mimpi-baik-baik-buruk yang terus menghantui malam-malam ku seminggu ini...

haaah...kenapa jadi merasa susah begini ya jadi anjing ??? dan semua terasa jadi aneh semenjak kedatangan Luina dan merasa majikanku seakan-akan merenggut hak-ku sebagai binatang . Aku berfikir...sebenarnya apakah manusia yang dikebiri dan hilang kejantanannya juga memusingkan hal yang sama seperti aku? atau aku saja yang terlalu berlebihan dalam memandang hal ini padahal aku hanyalah seekor binatang?

aku ingin diakui....!!!!
dan entah karena otakku memang rendah intelegensi-nya dibandingkan manusia...atau sepertinya dianggap wajar jika aku berfikir hal ini....
aku berfikir untuk sungguh-sungguh menjadi...
...
...

GIGOLO....(..rrrrgggh..)

mungkin dengan menjadi gigolo, Luina akan memperhitungkan untuk masuk ke dalam daftar hewan penting-setelah-sempat-khilaf-memilih-kambing..

mungkin ketika menjadi gigolo...aku menjadi pioneer di dunia anjing bahwa ukuran dan 'kejantanan' bukanlah segalanya, tapi kepuasan memenuhi kebutuhan lahir batin pasanganlah yang utama

dan mungkin setelah menjadi gigolo...aku tak lagi di bilang sissy-silly-dog oleh puddle-puddle itu...

yeaaaa ;) !

Test drive pertama ? Luina !!!
esoknya aku janjian dengan Luina untuk bertemu mengajaknya kencan di taman belakang rumah majikanku. Aku ingin tau seperti apa 'arti kepuasan' dari pandangannya dan....ingin mengetahui kebenaran tentang dirinya yang pernah menyukai kambing (ga penting tapi penting buatku...hehe).

Selama kencan, aku mengajaknya bercanda dan ngobrol2 ringan....hingga sampai ke arah obrolan yang agak serius dan menjurus...(halah)

Marley : " Luina...suka ga dengan tulang yang aku bawa buat kamu ?"
Luina : " Suka...rasanya gurih :D "
Marley : " Hehehe....sengaja aku pilihkan tulang dari jenis kambing BERHATI PELANGI loh ;) "

Luina sempat hampir tersedak...dan diam sejenak....tapi beberapa saat ia pun melanjutkan kunyahan tulang kambing itu dengan berseri-seri. Pikirku...berarti benar nampaknya gosip itu.

Marley : " Luina, aku pengen ngomong sesuatu..."
Luina : " Apa itu Moooollly ? " (Luina mulai flirting...hehe)
Marley : "Aaa...aku udah lama merhatiin kamu...dan kayaknya..."
Luina pun mendekat dan memandangiku dengan tatapannya yang buat aku melting...

Marley : " Kayaknya ....aku suka kamu..."
Luina pun mendekat dan aku spontan mendekatkan mukaku ke arah mukanya...
yeaaaa...we're kissing dan lain-lain hingga akhirnya menuju ke arah momen inti..

Marley : "Doggy-style, Luina ?"
Luina : "No no no....Goatty-style !!!"
Marley : "Whaaaaaattt ttthhhee ffffiiish!!!....heeeeeeyyy, we're dog, tau ga ?!?!! "

dan dalam keadaan seperti itu...mendadak kepalaku berat dan pandangan menjadi kabur dan hitam....


P.S. : monggo dilanjutken jeung Lushka...:)

Thursday, February 4, 2010

Marley IV

Walaupun perasaan tertekan tidak memiliki “kejantanan” perlahan aku terima, bukan berarti terkadang ada dorongan-dorongan aneh yang muncul kalau aku melihat “kejantanan” anjing lain. Tanpa sadar aku sering memperhatikan penis-penis anjing jantan lain dan menimbang, mengukur, berharap kembali. “Yang itu besar sekali”, “wah, kecil tapi bengkok”, atau “ah, terlalu merah”. Bukan jarang juga kalau ketahuan sedang memperhatikan penis anjing lain, aku dikejar-kejar sama si empunya penis. Tapi semenjak “kejantanan”-kuhilang, aku ngga punya keinginan melawan balik *sigh*. Ya, aku terobsesi dengan penis sekarang. Rasanya penis adalah jawaban satu-satunya untuk semua masalahku.


Itu juga mungkin yang membuat Luina merasa tenang-tenang saja dekat-dekat denganku. Padahal kalau ditanya, saya sering sekali gelisah kalau sedang tidur berdua dengan Luina. Kalu sudah sepertiitu, aku berusaha mengingat-ingat kalau Luina sepertinya pernah suka dengan seekor kambing..hiii...


Sekali waktu aku tidak sengaja pernah mendengar berita kalau penis bisa dipasangkan kembali. Seorang manusia betina marah dengan suaminya dan memotong penisnya ketika tidur. Aku jadi berharap kalau anjing bisa juga ngga ya? Kalau Ferre yang sedang kebagian menyiapkan makananku, biasanya aku akan mengambil posisi duduk mengangkang sambil memandang sedih ke arah selangkangan. Ferre sepertinya mengerti dan menceritakan perilaku aku ke Sisil. Tapi Sisil selalu mentertawakan Ferre dan bilang kalau dia manis sekali dan tidak lama tempat tidur mereka kembali berderak-derak *sigh* apa memang aku harus menerima kalau masa depanku suram?


Anjing jantan aneh yang suka memperhatikan penis anjing lain tapi punya perasaan terpendam dengan anjing betina yang suka dengan kambing. Ah, nistaaaaa....


Ya sudah! Sekarang jadi terbersit keinginan untuk jual diri saja! Toh, aku ngga bisa menghamili juga. Banyak anjing-anjing betina di sekitar rumah yang dihamili anjing-anjing jantan liar, lalu ditinggalkan. Siapa tahu statusku bisa sedikit naik. Dikebiri kan bukan berarti kehilangan kemampuan memuaskan pasangan. Tapi semenjak dikebiri, percaya diriku juga perlahan-lahan menurun. Harus test-drive dengan siapa ya?


*lho kok jadi cerita anjing gigolo..hiahahahaha...Dilanjutkan Ori saja. Monggo...*

Monday, February 1, 2010

Marley (iii)

Pada awalnya aku sangat kesal karena dikebiri. Gimana nggak kalo gara-gara dikebiri ini membuatku jadi krisis identitas. Sebagai anjing jantan, nyatanya aku gak bisa jadi pejantan. Kekesalanku makin menjadi-jadi setiap kali si pudel genit peliharaan tante sebelah meledek dan mengatai aku banci.

Sejak kedatangan Luina, aku sudah tidak lagi mempermasalahkan semua itu. Tanpa sadar aku malah bersyukur telah dikebiri. Soalnya, keadaanku yang tidak mungkin menghamili, membuat Luina merasa nyaman bila dekat denganku. Kami selalu berdua. Makan, bergunjing, bahkan tidur juga berdua. Tidak heran kenapa si Bitu kelihatan tidak senang atas kedekatanku dengan Luina. Yah kali aja si hitam berekor panjang dan berbulu lebat itu naksir si Luina.

Dulu aku geram kalo si pudel centil memanggilku Molly. Tapi sekarang Luina justru menggunakan nama Molly untuk memangilku dan aku merasa suka dia memangilku seperti itu. Bahkan nama lengkapku sekarang adalah Mollyraklirik. Hahahaha… Waktu aku tanyakan kenapa dia memberiku nama Mollyraklirik? Dia bilang nama itu akan mengingatkannya pada kambing gila nan absurd dari masa lalunya. Waktu aku Tanya lagi kenapa kambing itu begitu istimewa buatnya? Luina bilang karena itu adalah satu-satunya kambing di jagat raya ini yang tidak mengembek. Tiap kali kambing itu bersuara, bukan suara “mbeeeeehehehehekk” yang keluar tapi “jiaaaaaaahahahahaha”.



Uhm.. segini aja deh. Tadinya aku mo bikin si Bitu malah naksir si Mollyraklirik tp mood mendadak ilang. Hehehe.. Tolong lanjutin ya Mith.

Wednesday, January 13, 2010

Marley 2

Hari-hariku diisi dengan berbagai hal. Dan berbagai hal juga telah terjadi di rumah ini. Dua orang majikanku, Sisil dan Ferre, telah mengasuhku sejak gigiku belum tumbuh. Kami hanya tinggal bertiga di rumah besar dengan empat kamar ini. Rumah bercat krem muda dengan banyak foto berpigura di dindingnya. Di sebagian foto-foto itu aku bisa melihat diriku sendiri dalam berbagai pose. Ferre sering berkata kalau aku ini banci foto. tapi apa itu banci foto? um.. entahlah.
Tapi aku suka rumah ini. Dengan leluasa aku bisa menjelajah ke seluruh ruangan, menandai dimana saja aku suka dan menyembunyikan apa saja yang aku mau. Pernah saat gigiku mulai akan tumbuh-yang sumpah itu gatal sangat!- aku menyembunyikan belasan sepatu kesayangan Sisil dan mengoyak-ngoyaknya dengan sepenuh jiwa. Begitu Sisil tahu, dia marah besar dan tidak mengijinkan aku masuk rumah selama sebulan! Bayangkan aku harus di luar selama musim semi yang dingin itu! Tega benar memang manusia betina yang satu itu! Untung saja Ferre berhasil membujuknya dan mengijinkan aku masuk ke ruang tamu, padahal biasanya aku bisa tidur di kolong tempat tidur mereka.
Umm.. ngomong-ngomong tentang tempat tidur. Aku sering mendapati tempat tidur di atasku yang dihuni majikan-majikanku itu berderak-derak kalau malam. Kalau sudah begitu biasanya aku merangkak keluar, membuka pintu dan memilih tidur di keset depan pintu.
Yang terakhir ini aku sering melakukannya. Bukan saja karena hampir tiap hari tempat tidur mereka berderak-derak, tapi karena aku suka berjaga di depan pintu seperti itu. Ferre pernah berkata kalau aku di sana untuk melindungi mereka, jadi aku harus kuat dan menjaga dua manusia yang sangat aku sayangi itu. Selain itu saat hari sudah terang dan terdengar klakson sepeda tukang loper koran, maka aku bisa langsung melompat keluar menembus lewat lubang pintu dan mengambil Koran dan melompat balik masuk ke kamar majikanku yang masih melungker dalam selimut.
Lubang pintu berengsel yang bisa meloloskan diriku itu dibuat sendiri oleh Ferre. Ia membuatkannya agar aku bisa buang air di luar dan bukan buang air di kaki sofa kesayangannya. Waktu itu ia menjewerku sampai kepalaku rasanya pusing tiap kali ia mendapati sofanya dikencingi. Padahal kan tidak selalu aku yang kencing di situ, pudel-pudel milik si tante teman Sisil itu selalu kencing di situ tiap main ke sini. Dan selalu aku yang kena hukumannya. Sial benar. Daripada kupingku putus karena dijewer terus-terusan oleh Ferre aku pun memutuskan mendedikasikan diriku untuk melindungi sofa dan apapun kesayangan Ferre dari makhluk-makhluk sok cantik itu.
Sebentar, aku pindah posisi dulu.. hmm.. hidungku gatal. Hattcyim!
Humm.. serbuk bunga banyak beterbangan masuk rumah. Dan aku alergi. Hatcyiim!
Um.. perutku keroncongan. Aku melangkah ke dapur tempat aku mendengar Sisil bersenandung kecil dan memasak makan malam untuk Ferre. Aku berjalan ke arahnya dengan ekor bergoyang-goyang dan lidah menjulur menjilati bibirku.
“Hai, tampan.. kamu lapar?” Sisil berjongkok mengusap-ngusap kepalaku. Aku menjilati pipinya dan ia bergidik geli sambil tertawa kecil. Ia lalu berdiri dan menyiduk semangkuk besar makanan dari karung yang disimpan dalam lemari, memberikannya padaku dan berjongkok menemaniku yang makan dengan lahap.
“Makan yang banyak ya, Marley” ia mengusap kepalaku lagi dan masih berjongkok di situ menemaniku makan. Sesekali aku menatapnya. Sisil. Majikanku itu sudah bukan remaja lagi. Tapi ia tetap cantik. Ferre juga cantik. Ia selalu tampak anggun dan pintar dengan kacamata yang selalu memagari matanya yang selalu dipuji Sisil itu. Lalu aku makan lagi hingga potongan-potongan daging di mangkukku ludes tak tersisia.
Waaaw.. aku kenyang!
Sisil mengangguk-angguk senang lalu meneruskan pekerjaannya.
***
Sudah sore. Dan seharusnya Ferre sudah pulang. Kata Sisil ini hari Sabtu dan Ferre akan pulang cepat lalu kami akan makan enak. Mendengar ia mengucapkan kata enak, liurku langsung terbit dan aku teringat T-bone yang pernah dibawa pulang Ferre di hari Thanksgiving beberapa waktu yang lalu.
Ayo.. Ferre.. cepatlah pulang.
Baru saat tiba makan malam barulah Ferre pulang. Aku sedang menonton Discovery Channel di ruang TV saat aku mencium bau Ferre memenuhi udara. Aku langsung berlari mendapati Ferre, melompat ke pelukannya dan menjilati mukanya.
”Hahahaha.. ya..ya.. terima kasih sudah menyambutku, Marley. Ayo sini aku kenalkan ke anggota keluarga baru kita”
Ia menurunkanku dan disanalah mereka. Di hadapanku. Tiga manusia. Yuiko, Jill, dan Nana, mereka mengenalkan diri mereka masing-masing dengan muka berbinar-binar. Dan yang paling berbinar-binar adalah Luina, labrador betina yang duduk di sisi Yuiko. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Mataku tertuju ke satu makhluk berbulu hitam bertampang dingin dengan ekor panjang yang juga berbulu lebat dalam gendongan Nana.
Aku pun menggeram.








------------------------
okurete sumimasen.. >,<
maaf telat banget nulisnya..

hai, sugi wa...... Jumi san! dozooooo..... XD

Wednesday, December 30, 2009

Marley

Perkenalkan. Saya Marley. Im a retriever. Majikan saya adalah dua orang yang tengah jatuh cinta. Atau lebih tepatnya, selalu jatuh cinta. Satu sama lain tentu saja.

Saya suka berlari. Dalam segala kesempatan saya pasti akan mencari cara agar bisa menggerakkan keempat kaki saya untuk saling mendahului. Mengejar tukang pos. Pengantar koran. Burung burung. Dan tentu saja, mengejar pudel pudel sok cantik itu.

Bukannya saya tergila gila pada pudel. Saya hanya ingin membuat mereka senang. Saya tahu, mereka akan sangat bangga jika tahu ada yang mengagumi bulu bulu keritingnya.

Dan saya katakan pada kalian, poodles are bad. Terbukti karena merekalah, majikan saya akhirnya membuat satu keputusan yang mempengaruhi seluruh kehidupan saya. Kebiri! Oh no. Malangnya nasibmu Marley.

Tapi untungnya saya tidak lantas depresi. Tidak perlu lah setelah itu saya mengkonsumsi estrogen setiap hari. Berdandan. Memakai bulu palsu. Menyembunyikan identitas. Atau berganti nama menjadi Molly di malam hari.

Yeah. Saya Marley. Dan ini adalah cerita saya.

(by Sammy inspired by Marley & Me movie)

Giliran cesca di skip dulu nyaaak temans, hihihii...

Unthukk selanjhutnyaaah kita tamphilnyaaa...Shifraaaa

Thursday, December 10, 2009

No More Life (TAMADDDD)

terdengar bunyi kresek-kresek dari arah belakang mereka. Arah yang sama dengan posisi si anjing berbulu perak. Rey memutar badan dan mundur selangkah dengan protektif, berusaha melindungi Mini dari bahaya yang sangat mungkin mengancam. Perasaan waswas meliputi keduanya. Refleks, Rey memegangi taring pemberian si kakek misterius tadi. Dipegangnya erat,berharap taring tersebut memiliki kekuatan mistis yang dapat menguak misteri rumah Juminten Jamu. Atau setidaknya bisa menyelamatkan mereka dari anjing perak yang tiba-tiba bangun dan melangkah ke arah mereka.

Mini mencengkeram tangan Rey erat. Si anjing perak menggeram. Rey mundur teratur. Di dalam hati ia mengutuki Juminten Jamu.

"kemana sih kok nggak nongol juga..Juminten jamu..saya nggak mau digigit doggie ini.." Rey berbisik lirih..Mini semakin merapat ke arahnya. Tiba-tiba dari kegelapan di belakang anjing perak muncul lah sesosok wanita berambut panjang dan baju putih. Rey tersentak kaget. Sekujur tubuhnya dingin seketika. Bulu kuduknya meremang. wanita itu berjalan mendekat. semakin dekat.

"kamu nggak akhan dighighit khog..hihihihi.." wanita itu berbicara masih dalam keremangan. sosoknya yang misterius membuat Rey penasaran, jangan-jangan dia ini si Juminten Jamu. dari cara bicaranya sih sudah mirip. Tapi, ada yang salah dengan hal ini.

“Rey, itu apa..itu yang rambutnya panjang2 itu..yang tadi ngomong..masa itu Juminten Jamu?????” Mini mulai dilanda kepanikan dan mencengeram Rey lebih erat ketika sosok misterius itu makin jelas. Rambutnya panjang se-lantai, bajunya putih, wanita itu tinggi semampai, dan..jalannya agak melambai?? *glek*

Wanita..eh,,iya deh,wanita..wanita yang ternyata sangat jelita itu menyapa mereka ramah sambil memasangkan tali ke leher anjing berbulu silver. “sebentar yha Jeung. Saya nyalain lampu dulu. Monggo pinarak..aduuh makasih yaa udha diibawain bohlamnya..” Wanita itu menghampiri Rey dan mengambil taring tadi dari tangan Rey, membuka mulut si Moli dan memasang taring itu di graham Moli. Setelah itu ia memencet hidung si Moli. Seketika, terang benderang lah ruangan tersebut. Mini terlonjak kaget. Moli memendaran cahaya yang menerangi ruangan tersebut. “jangan kaget, kisanak. Moli ini serbaguna. Selain jadi anjing penjaga, dia bisa juga jadi lampu. Praktis kan?”

Rey dan mini mengangguk takjub kemudian Rey berdeham.

“ehem..jadi, Juminten Jamu..”

“akhu sudha tauh apha yang kalian inginkhan. Yuk marii ikut saya ke ruangan belakhang..capchuss ya bok..” Ujar Juminten sambil berlalu didahului oleh Moli selaku lampu. Rey dan Mini saling berpandangan penuh isyarat. Ikutin-nggak-ikutin-nggak-ikutin aja dehh. Mereka memasuki lapangan upacara. Laboratorium yang tertata sangat berantakan. Di depan mereka,Jumi berhenti dan mengobok-obok tumpukan rongsokan sampai rambutnya nyangkut kemana2 dan kembali menghampiri mereka membawa sebuah kabel USB dan botol cocacola lalu menyerahkannya pada Mini. “minum o..”

Mini mengerenyit. “kalo saya korslet gimana? Kok saya disuruh minum cocacola. Saya tuh makannya beling, bukan cocacola..” Mini menepis halus botol tersebut. Rey yang penasaran apa isi botol itu pun bertanya pada JumJam.

“itu apa,Jum?”

“ini...................cocacola.”

“sama dong sama yang di supermarket..tau gitu saya ke supermarket aja beli sendiri..”

“lho, ja bedha mas Rey. Piye toh iki. Iki cocacola-ne wis tak pendem 1000 tahun. Wis tak campur karo kembang 7 rupa, air 7 mata air tur perjalanane wis uadoooh tenan. Wis ngeliwati 1000 kuto. Wis tak takoni 1000 ati. Nek panjenengan ndak minat, ceriwis yo wiss. Mini ndak jadhi bisa hamilnya.” JumJam mutung. Wajahnya yang catik-nya antik karena mirip kuntiliani,anak kuntilanak itu merengut. Mini pun turut serta dalam perengutan itu. Wajahnya bertekuk-tekuk. Rey panik. Kok jadi dia diambekin 1 orang 1 robot gini sih.

“yaudah-yaudahh..jadi deh. Tapi gimana caranya? Kan ga mungkin Jum kalo si Mini ini disuruh minum itu kokakola.”

Juminten tersenyum penuh arti. Sebelah tangannya mengangkat USB cable dan memberikannya pada Rey. Rey bengong. Mini pasrah. Juminten membuka botol kokakolanya. Ketika terbuka,terciumlah semerbak kembang 7rupa, dan setelah itu tercium juga bau..seperti..hm..kuah pempek???

“nah Mini, kamu cobha colokin dhulu USB-nya ke diri kamu..setelah itu, minum Cocacolanya. Nggak akan korslet kok, nanti itu akan melemaskan engsel kamu dhan kamu akan bisa hamil. Serriusss. Percayalah. “ jumi berusaha meyakinkan walau pihak yang diyakinkan nggak yakin sama sekali tapi mau nggak mau nurut –daripada disantet sama JumJam- . Rey mengerenyit sambil membantu Mini menghabiskan ramuan cocacola-nya. Baunya itu looh..nggak nahaaan. Belum sampai habis botol cocacolanya, Mini mengejang. Pandangannya kosong dan tiba-tiba seperti di shut down, ia berhenti.

“jumi! Jumi! Ini kenapaaa??? Mini kenapaa????” Rey phaniiiq.

“tenang, mas Rey. Ngene wae kok yo nganggo panik. Mini bobok. Sebentar lagi juga bangun.” Juminten jamu membereskan botol dan sisa cocacola yang tumpah.Rey masih tetap panik,tapi dia merasa tidak ada gunanya lagi panik. Toh Mini belum juga membuka matanya. 5 menit..10 menit..12 menit..12menit3detik..dan tiba-tiba Mini terbangun, matanya membuka dan diikuti bunyi PLOP yang keras, Mini hilang ditengah asap.

“JUMIII…. MINI KENAPAAA???? MINIIIIII!!!!!!!!!! TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK!!!!!!!!!!!”

“aduuh duuh..mas Rey ini kok yha lebhayy banget tho…” Jumi masuk kekepulan asap, Moli menggeram sambil membuka matanya, menyinari Jumi. Dan jumi membungkuk, mengambil sesuatu dari lantai. Sebuah sosok yang mungil. Dengan rambut sama seperti Mini, dan wajah mirip dengan Mini. Rey speechless. Kakinya lemas seketika. Ia jatuh terduduk.




PERTANYAANNYA: SIAPAKAH YANG DIAMBIL JUMINTEN JAMU????
KIRIMKAN JAWABAN SERTA ALASANNYA DI COMMENT YAAA…ahuahahahahaha…

-TAMAD-

Thursday, December 3, 2009

No More Life (Sedoso)

"Baiklah kalo begitu! Semua syarat akan saya penuhi," Rey menyanggupi. Sesaat ada angin kecil mengelus tengkuknya. Bulu kuduk Rey berdiri. Seperti telah melakukan perjanjian dengan setan.
"Hi hi hi hi hi..." tawa Jumi misterius lalu sambungan telephon tertutup.
Rey memutuskan untuk pulang setelah itu. Mini sempat heran melihat Rey pucat setelah mengakhiri percakapan dengan Juminten Jamu.
"Yakin dengan keputusanmu Rey?" tanya Mini dan hanya di balas dengan tatapan kosong Rey.

Seminggu...

"Rey...kamu tambah pucat! Kamu kurang tidur ya?" Mini memperhatikan lingkaran hitam di sekitar mata Rey. Kontras sekali dengan kulitnya yang memucat.
"Seminggu ini banyak kejadian aneh Mini! Seperti ada yang mengikuti aku. Bruno juga akhir-akhir ini gelisah. Seperti ada orang asing yang selalu memperhatikan aku."
"Hmmm...mungkin karena kamu terlalu memikirkan project robot baru di Divisi. Kadang terlalu lelah bisa berhalusinasi yang enggak-enggak Rey. Oia, kamu sudah hubungi Juminten Jamu lagi?"
"Belum, coba sekarang aku hubungi dia!" Rey mencopot telinga Mini.

Lingsir wengi slirahmu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet...

Rey begidik denger ring back tone Juminten. "Kenapa ganti menakutkan gini?" pikir Rey
"Mas Rey my maaaaaan!!! Ghimana khabare Mas?"
"Baek Jum! Gimana perkembangannya Jum?"
"Buereeees Mas! Ndak perlu khawatir. Tapi saya butuh Mini dhan Mas Rey dathang. Saya udah siapkan indhung telur buat dikombinasikan gen-gennya dengan struktur pembentuk Mini. Telur itu harus masuk inkubator yang saya cangkokkan ke tubuh Mini seperti yang saya jhelaskan sebelumnya itu mas. Saya yakin 100% berhasili. Dan Mas Rey harus..."
Sekali lagi bulu kuduk Rey meremang mengingat perjanjiannya dengan Jumi. Kata-kata Jumi hampir tak didengarnya sampai Jumi ngomong, "Mas Rey ndak boleh ingkar! Kecuali Mas Rey mau celaka..."
"Kapan kami musti kesana Jum?"
"Malam Jumat Legi mas, besok!"
"Kenapa musti malem Jumat Legi?"
"Ndak usah banyak tanya deh mas! Siapin ayam cemani, minyak seribhu bhunga, dhan sejumput tanah dari depan rumah mas Rey! Saya tunggu mas!" telphon pun ditutup.
Rey semakin bingung dengan persiapan yang musti dibawa. Mencoba mencari benang merah antara bayi robot pesanannya dengan ayam cemani. Tapi dia mencoba menerima, mengingat Jumi adalah tukang Jamu yang cukup eksentrik di masanya.

Besoknya Rey menuju kediaman Jumi. Agak terpencil dan Rey lupa persisnya. Masih sore saat itu, mobilnya diparkir di depan balai desa yang kurang terawat. Rey dan Mini memutuskan jalan kaki dari sana. Dari seberang tampak kakek-kakek mendekat menghampiri mereka berdua. Rey berhenti melangkah. Membeku di tempatnya. Rey merasa kakek itu membaca pikirannya. Jarak mereka sudah dekat sekarang.
"Tindakanmu cukup bijaksana anak muda, tapi sekarang kau sudah terlalu jauh melangkah dan terlalu terlambat untuk membatalkan semua," kata kakek itu yang hampir menyerupai desisan. "Bawalah ini dalam perjalananmu!" lanjut kakek itu. Tanpa menunggu persetujuan Rey, diselipkannya taring kecil yang disematkan di tali dari kulit ke tangan Rey. Kakek itu melirik ke arah Mini sesaat lalu meninggalkan mereka berdua.
"Tapi untuk apa kalung ini Kek?" Rey memutar tubuhnya mencari sosok kakek itu, tapi kakek itu sudah lenyap dari pandangannya. "Semakin aneh saja..." pikir Rey dalam hati. Nggak ada alasan buat kembali. Mereka berdua meneruskan perjalanan. Belum terlalu malam saat itu, tapi kabut mulai turun, dan suasana desa yang sepi ini menjadi semakin mencekam. Suara angin bercampur dengan deritan pohon-pohon bambu yang saling bergesekan. Mini menyalakan lampu sorot di ujung jari telunjuknya, menerangi jalan sempit yang mereka lalui. Mereka nggak tau ada sosok perempuan berambut panjang memperhatikan dari balik rimbunnya pohon bambu kuning. Radar Mini pun nggak menangkap kehadiran makhluk itu.
"Mini, coba cari tau apa benar ini jalan menuju kediaman Jumi? Dan lihat apa kita di posisi yang benar!" perintah Rey, sesaat dia ragu dengan ingatannya. Mata mini mengeluarkan cahaya hijau membentuk garis-garis tipis menampilkan tempat mereka berada, dengan dua titik fokus yang berpendar. "Benar! Sekitar 20 meter lagi dari tempat kita." Rey kembali melangkahkan kakinya. Dirapatkan jaket kulitnya sesaat sesudah dia mengalungkan taring pemberian kakek yang ditemuinya tadi.
Jantung Rey berdetak begitu kencang hingga dia bisa mendengarnya. Mulutnya terasa kering. Dia sudah berdiri di depan pintu rumah Jumi. Catnya sudah kusam tak terurus. Rey mengetuk pintu itu. Dan pintupun terbuka perlahan. Mini menggigit bibir bawahnya. Rey menghembuskan nafas panjang dan gemetar.
Terdengar suara geraman perlahan dari balik pintu yang baru membuka sebagian. Dan saat pintu terbuka lebar Rey melihat sepasang sorot mata yang dingin menatapnya. Mata anjing berbulu keperakan itu menantang tatapan Rey. Hampir menyerupai serigala. Rey menatap gigi-gigi tajam dan air liur yang menetes dari rahang anjing itu. Setelah cukup yakin anjing itu nggak akan menyerang, Rey menggenggam pergelangan tangan Mini dan menggandengnya masuk ke dalam. Ruangan itu pengap, tercium bau balok-balok kayu yang membusuk. Rey berjalan di depan Mini, memutar, menghindari tatapan anjing itu.
"Jum...." panggil Rey pelan. Tengorokannya tercekat.

Monggo yang jadi bintang utama dilanjutkeeeen.....

Monday, November 30, 2009

No More Life ( 9 )

“AHA!” Rey tiba-tiba berdiri dari duduknya sambil setengah melompat. Mini terkejut dan mundur beberapa langkah, dia kira pantatnya Rey disengat kalajengking.

“Mini sayang, aku dan ayahku memang tidak sehebat itu. Tapi kamu bisa kok hamil dan punya bayi.”

“Caranya?” Mini tidak yakin dengan ucapan Rey.

“Kamu tau Juminten Jamu kan?”

“Iya tau. Trus kenapa? Masa aku mo disuruh minum jamu? Bisa korslet semua pirantiku.” Mini masih bingung.

“Bukan begitu Miniiiiiiiiii. Juminten Jamu itu kan bukan tukang jamu sembarangan. Dia tukang jamu yang paling canggih sejagad khayalan. Dia serba bisa tauuuuuu. Kalo kamu gak percaya, kita telpon sekarang ya?”
Rey mencopot telinga Mini, memencet tombol disana dan melekatkannya ditelinganya sendiri.

Umpamane Kowe Uwis Mulyo
Lilo aku Lilo
Yo Mung Siji Dadi Panyuwunku
aku Pengin Ketemu
Sanajan Sak Kedeping Moto
Kanggo Tombo Kangen Jroning Dodo

*ringback tone-nya Juminten* Hihihi..


**setiap dialognya Juminten dibaca dengan logat jawa yang paling medhok

“Halo. Juminten dhisini. Siapa dhisana?”

“Hai Juminten. Ini Rey anaknya Pak Roy.”

“Oooo.. Mas Rey tho. Adha apha ya? Kok tumbhen-tumbhennya telephon saya.”

“Ini Jum.. Aku mo minta tolong dikit.”

“Owalah. Dhasar Mas Rey ki. Nek adha perlunya ajha bharu cari saya. Apha tho yang bhisa saya bhantu?”

“Mini pengen punya anak, Jum. Masalahnya dia kan robot. Kira-kira kamu bisa Bantu gak?”

“Woaduh. Lha yo saya ndhak bhisa bhantu. Saya sendhiri bhelum pernah dhenger adha jamu untuk bikin robot hamil.”

“Halah.. Jangan becanda Jum. Aku kan tau kamu itu bukan tukang jamu sembarangan. Kalo yang gendut aja bisa kamu bikin langsing, yang tua jadi muda, yang brindil jadi kribo, masa bikin Mini hamil aja gak bisa?”

“Hihihi.. Mas Rey ki lho bhisa ajha.”

“Jadi gimana? Bisa kan? Berapapun biayanya saya bayar deh.”

“Nah itu yang saya tungghu. Baiklaaahh. Asal adha duitnya sih saya bhisa lah. Hihihi. Maaf ya Mas Rey. Kan bhisnis is bhisnis, mani is mani, pren mah kelaut aje.”

“Trus prosesnya gimana tuh Jum?”

“Sek tak mikir dhulu. Mas Rey telephon laghi nanti 5 menit lagi wae yo?”

Tut.. tut.. tut...

Rey belum sempat menyahut tp telponnya sudah ditutup oleh Juminten.
“Dasar Juminten! Gak sopan. Maen tutup aja. Padahal yang telpon kan aku.” Gerutu Rey kesal.

“Gimana Rey?” tanya Mini penasaran setelah melihat Rey melepaskan tenglinga miliknya.

“Katanya sih bisa. Tapi tau deh. Nanti kita telpon 5 menit lagi.” Jawab Rey masih terdengar kesal.

Lima menit kemudian…

Umpamane Kowe Uwis Mulyo
Lilo aku Lilo
Yo Mung Siji Dadi Panyuwunku
aku Pengin Ketemu
Sanajan Sak Kedeping Moto
Kanggo Tombo Kangen Jroning Dodo


“Halo Mas Rey. Saya sudah punya idhe.” Juminten langsung nyerocos mengutarakan idenya sebelum Rey sempat mengatakan sepatah kata pun. “Beghini, Mas Rey tau ndhak Vicky the Robot serial dhi te-pe-er-i jhaman dhulu? Yang adha robot cewek kechil, cantik dhan cerdhas itu? Nah saya rasa saya akan membhuat baby mini seperti itu. Taphi ya prosesnya ndhak bhisa sehari jadhi. Yah kira-kira 10 bhulan 9 hari lah. Jadhi nanti Baby Mini ini akan saya tanamkan super chip yang kemampuannya melebhihi apa yang dhimiliki oleh Mini. Nanti setelah super chip ini saya program, perlu dhi baking dulu dhengan temperatur 500 dherajat celcius selama 10 bhulan untuk menguji ketahanan terhadhap suhu agar ndhak mudah rusak. Nah proses baking ini harus dhijaga betul. Temperaturnya ndhak bholeh turun naik. Dhemikian jugha dhengan arus dan tegangan yang kita supply ke dhalam chip, harus konstan 2 ampere 200 volts. Dhalam proses inilah kita akan mengkondhisikan Mini hamil. Kan Mas Rey tau sendiri bhagaimana listrik dhari PLN yang sering byar-pet. Itu sangat bherbahaya untuk proses baking super chip ini. Makanya saya akan membherdayakan Mini untuk menjhaganya sekalian kan dhia bhisa mengontrol suhu, arus dan tegangan. Nanti saya akan mencangkokkan oven kedhalam tubuh Mini untuk proses baking. Yah kita angghap sajha oven itu sebhagai rahim. Sementara Mini saya sibukan dhengan proses itu, saya akan menyiapkan bhagian-bhagian tubuh untuk si Baby Mini. Uhuk.. uhuk.. Sebhentar Mas Rey. Saya minum dhulu. Capek jhe ngomong terus.”

Setelah beberapa saat, “Mas Rey masih dhisana tho? Kok diem sajha dhari tadhi?”

“Iya. Gimana mau ngomong? Kan kamu nyerocos aja dari tadi.”

“Hehehehe. Jadhi bhagaimana? Sedherhananya yah konsepnya seperti itu. Cukup masuk akal kan?”

“Boleh juga. Dan sepertinya Mini juga gak akan keberatan untuk itu. Tapi gimana urusan biaya? Berapa yang harus saya sediakan?”

“Urusan biaya Mas Rey ndhak perlu memikirkan dhulu. Untuk Mas Rey saya kasi gratis ajha. Asalkan setelah Baby Mini jadhi, yah giliran Mas Rey yang menghamili saya.”


PS: Arie, tugas dulu baru pacaran!

Monday, November 23, 2009

no more life lapan

Zinggggggg

Sunyi. Cuma ada suara angin yang bergesekan dengan ranting pepohonan. Mini terdiam. Rey masih menunggu. Sebenarnya dia tak sabar. Tapi juga terlalu malu untuk mengakui kalau dia penasaran.

“ HAHAHAHA. Coba lihat mukamu itu Rey. Seperti kepiting rebus. Merah. Dan persis seperti Bruno. Anjingmu itu. Dengan lidah terjulur melompat dan berlari mengejar ekornya sendiri. Bodoh. Hahahaha.”

“Heyy. Bruno itu ngga bodoh! Dia cuma terlalu bersemangat. “

“Hahahaha. Baiklah baiklah. “
Mini berusaha agar tawanya tidak keluar lagi. Sampai sampai matanya mengeluarkan air.

“Jadi siapa ayahnya?” Tanya rey tiba tiba.

“BWAHAHAHA.” Mini menyemburkan juga tawa membahana yg sedari tadi tertahan.
“Aku serius!!” ucap rey sambil melompat dari duduknya.

“Rey. Aku mungkin sempurna di matamu. Aku menangis. Aku tertawa. Aku tersinggung. Aku bahagia. Dan aku jatuh cinta.”
“Aku diciptakan demikian sempurna. Setara ratu sejagad. Beauty pageant. Putri putrian.”
“Tapi sepertinya kamu lupa. Aku tetaplah er o be o te.”
“ROBOT.
“Sehebat apapun kamu dan ayahmu, kalian belum bisa menciptakan rahim di diriku.”

Rey terhenyak. Menyadari kebodohannya.
“Rey.” Dia mendongak, menatap mini.
“Tapi aku ingin.”

......


p.s maap sodara2 telat abissss. guilty as charge :D

(jamu jamuuu)

Tuesday, November 3, 2009

no more life (7)

dan mini pun terdiam...

bak adegan slow motion film, wajah rey makin lama semakin dekat dengan wajah mini...
jari telunjuk rey mengarah pada hidung mini...."seperti yang kuduga...aku kira kotoran apaan...ternyata jerawat kering ya?", ujar rey yang dari tadi gatel untuk mengetahui gerangan apa yang menempel di ujung hidung mini.

"aaaarrrrgggh...", mini bergumam dalam hati,menyangka adegan itu akan berakhir romantis.

mini berkhayal apalah jadinya kalau ia harus bersama-sama satu kelompok dengan rey dalam sebuah praktikum...."hhmmm..bagaimana mungkin itu terjadi...", dan mini pun tersenyum kecil membayangkanya.

"rey...."
"ya ?", jawab rey dengan cool nya...
mini kaku tuk mengatakan sesuatu, hanya "eeehhmmm..." yang sesekali keluar dari mulutnya.

"rey...aku hamil "...dan kesunyian itu pun pecah seiring dengan terdiamnya rey yang sedang asik mengutak atik PDA barunya.

"hamil ?", ujar rey terheran-heran.
mini membalas wajah pucat rey dengan mengatakan,..

"sebenarnya...sudah 2 bulan hal ini ku simpan.."

rey menunggu setiap kata-kata yang ingin mini keluarkan.

"jadi...ayah biologis anak dalam kandunganmu siapa?"

...
...
...
"rey,....ayah biologis ini adalah...."






n.b.: maap atas ketelateunnya..hehe
*monggo dipersilahkeun abang samson

Thursday, October 29, 2009

no more life lanjutannyaaaa....

Kugulung lengan bajuku sebelum kuambil pisau bedah itu. Dua minggu terakhir ini aku menjadi akrab dengan pisau-pisau itu. Tapi hanya satu yang sering aku gunakan. Pisau penyayat kulit. Tajam, ramping dan begitu pas. Kugenggam erat gagang pisau yang dingin dan menancapkannya. Pintu pun terbuka setelah terdengar bunyi mendesis. Lalu kembali orang-orang tampak berseliweran.

“Kuncimu rusak lagi?” Tanya Jill yang masuk ke lab begitu aku membuka pintu. Aku menggaruk-garuk kepalaku dan menyerahkan laporan sesi hari ini.
“Seri si bangsat belum bisa dilaunching bulan ini. Emosinya masih kurang stabil.”
Jill hanya mengangkat bahunya dan mendekati seri tujuh yang masih tergeletak di lantai.
Aku menghela nafas panjang dan memasukkan kembali kunci pisau bedahku ke kantong jas labku.
“Menurutku dia sudah cukup baik”
Jantungku menghentak keras kala kudengar suara itu mengalun tepat di belakangku. Ya Tuhan.
Aku menoleh dan mendapatinya berdiri dalam balutan kemeja putihnya yang kebesaran dan jeans yang robek di kedua lututnya. Ia tersenyum ramah lalu berjalan melewatiku yang mematung menatapnya.

Hmm... wangi parfumnya yang lembut dan menenangkan terbang menyapa hidung dan sadarku ketika ia lewat. Sekuat tenaga aku berusaha tenang dan sewajar mungkin mendekatinya yang sedang mendiskusikan proyek terbaru kami itu.
“Hai, Rey. Tanpa seragam dan jas lab lagi hari ini?” sapa Jill yang melirik sekilas pada rekan kerjaya itu lalu kembali menekuri kepala si bangsat. Yang disindir hanya tertawa terkekeh lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong kemeja putihnya. Chip perak.
“Aku sudah buat program baru dan kita bisa selesaikan secepatnya”, katanya.
“ Kalian saja. Aku harus pergi meninjau seri lima di pusat. Tadi pagi sebagian processor mereka terbakar tiba-tiba. Aku harus memeriksanya”, jawab Jill datar.
”Oh? Jadi aku akan berdua saja dengan mmm..” ia menoleh padaku memicingkan matanya , berusaha mengingat.
”Mini” jawabku singkat. Degupan jantungku berangusr-angsur kembali normal dan aku harus tenang. Harus.
”Ya! Mini. Apa kamu tidak apa lembur lagi kali ini?”
”Tak apa. Aku sudah mulai bosan dengan si bangsat itu. aku ingin ia cepat selesai karena seri 8 sudah memenuhi kepalaku”
Ia tersenyum lega mendengar jawabanku.
“Oke kalau begitu.. kita bisa pergi sekarang”.
”Pergi?” tanyaku. Ia mengangguk lagi lalu bangkit. Menguncir rambut pendeknya dan menatapku.
“Kamu tahu kan aku lebih suka membuatnya menjadi pekerjaan rumah. Ayo”.

Hah?
Ia melenggang pergi setelah memberikan chip peraknya ke tangan Jill. Aku masih terdiam saat melihatnya keluar lab. Entah terdiam karena terbius wangi tubuhnya atau terdiam karena asupan oksigen yang kurang di otakku karena belum makan sejak semalam. Mungkin yang kedua. Sudah seminggu ini aku tidak keluar lab dan makanan kaleng membuatku muak.
“Ini”. Jill menyodorkan setumpuk map dan cd program ke tanganku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Pekerjaan rumah Rey”. Katanya datar.

Nice. Seminggu lembur di lab dan sekarang jadi babu angkat barang milik professor muda serampangan yang baru aku kenal dua hari yang lalu.
Dengan susah payah aku membawa tumpukan pekerjaan rumah Rey menuju mobilnya. Keren sih keren tapi kalau seperti ini terus tidak bisa dibiarkan. Memangnya aku babu disuruh angkut-angkut mapnya seperti ini! Sial!
”Ah! Maaf sudah membuatmu menggerutu dan merepotkan seperti ini”. Entah darimana datangnya makhluk itu tapi tiba-tiba saja ia mengambil semua bawaanku dan membiarkanku berjalan melenggang di sebelahnya. Kami berjalan menuju basement dan selama perjalanan itu mataku tak pernah lepas menatapnya yang terus bercerita mengenai program yang baru saja ia buat. Dia sangat manis. Berulang kali ia meniupi poninya yang kepanjangan agar menyingkir dan tidak menutupi matanya.
”Sebentar”. Aku mengambil klip rambut dalam kantong kemejaku dan dengan sedikit mendongak aku menjepit poninya ke samping. Dan saat itulah aku baru sadar kalau aku berdiri dekat sekali dengannya. Sejak saat itu pulalah aku sadar kalau ia memiliki mata terindah yang pernah aku lihat. Hitam seperti malam dan berkilau sejernih kristal.
”Mini..”








ja, dozo.. mba rashii...hehehehe...

Monday, October 19, 2009

no more life 5

*sigh* capek ngomong sama lo. nyebelin. mesin tetep mesin. semua kata-kata lo udah diprogram, dan gue, gue.. aaargh! *sigh* rumiiiiit...

laaah.. balik kesitu lagi, semua bisa diatur you silly.. scientist-scientist dan engineer-engineer pantang menyerah itu udah nyiptain gue sedemikian rupa buat nemenin manusia-manusia kaya lo gini, yang butuh partner semi nyata, ada di saat yang lain nggak, yang bisa diajak keluyuran kesana kemari, liburan keliling negeri di saat semua orang sibuk dengan kerjaannya masing-masing, yang bisa diajak bercinta saat nafsu birahi menggelora.. najis bahasa gue, program yang menyebalkan memang. ehm, dan yang paling penting bisa diajak berdiskusi saat pikiran lo buntu dan dipencet tombol offnya disaat gue udah mulai bikin lo kesel karena omongan kami terlalu benar dan ego lo terlalu besar un..

klik!

GDUBRAK! versi 7.08 tergeblak ke belakang.

lo ngasi alasan tepat buat pencet tombol off busuk ini, CEREWET, BERISIKKKK, aaargh! KUTTTTTTTiiiiiiiiiLL! cukup! cukup semua orang dan fuckin smug robot! fuck gue dan semua sumpah serapah gue! aaaaargh! cukup semuanya ngatur-ngatur gue, kasih tau gue apa yang bener. NGGAK NGERTI lo semua! cuma satu yang bisa ngerti gue sekarang ini..

mini menoleh sedih kearah pisau bedah yang terlihat berkilau bersama alat bedah lain di dalam wadah alumuniumnya..


ini dia waktunya..





buat shifra ngelanjutin ceritanyaaaa...

ps: maaaaaap, ini udah lewat deadline belum yah? huks..

Friday, October 16, 2009

no more life.....(telu)eh salah,hehehe,empaaaat

ya ya i know..gw gitu loh!tapi tar dulu,kembali kepokok permasalahan!gw lagi kesel!

ya uda si kesel aja,tapi kenapaaa???

apanya yang kenapa?

marahnyaaa..

emang kalo kesel harus ada alasan kenapa?

yaa,katanya kalo manusia normal si begetow..

jadi maksud lu gw gak normal?!Maksud lu apa ngatain gw gak normal?!gak sekalian aja lu ngatain gw idiot?!bebal?!ato bahkan cacat mental?!

lah?bukan gitu maksud gw..

trus apa?!emang lu sendiri tau definisi dari kata normal?!dan yang paling utama,lu pikir lu normal?!


waaa,nyolot lu

hemmmm,sapppa yaaaaa???*bentjong mode ON*..towel towel ayang,cieeewe,lanjutin ya sayangku pacarku cintaku yang lucuuu,nyahahahahaha

  © Blogger templates Brooklyn by Ourblogtemplates.com 2008 modified by: Adriel Shakti

Back to TOP