Monday, December 14, 2009

aduh.. situ mau pamer?



Bisa menangkap pemandangan yang kami lihat? kami, karena waktu itu gue lagi ma si DeeJr..hhehe.. si bapak2 itu dateng ma ibu2 bermuka full make up dengan anak cowonya yang masih balita. entah karena ga sadar ato emang sengaja di pamer punya itu aset, tapi yang pasti.. asli ga enak bener diliatnya.. >,<


kalo bisa dizoom ato mau liat di TKP pasti kalian akan keheranan juga melihat dua pipi bawah si bapak itu yang bercorak seperti kulit sapi.. ato batik pekalongan?

yah pokoknya berbercak-bercak gitu deh.. hiiii....

Friday, December 11, 2009

ngapain lu liat2?



ini dua cewe seharian itu ada di sekitar gue mulu.. hehe.. saia erasa dikuntit.. ato lagi kebetulan ajah? umm.. kayanya sih kebetulan aja yah.. hahahaha.. (apaan sih?)
aniwei, itu mereka bedua ngeliatin gue jalan depan mereka sambil bergunjing gitu.. males kan digunjingi seperti itu.. yasuda saja gantian deh. mari kita gunjingi mereka..

nb:tadinya gue kira si butchi nya OB di situ..soalnya pake kemeja biru muda.. hihihi.. Xp

Thursday, December 10, 2009

No More Life (TAMADDDD)

terdengar bunyi kresek-kresek dari arah belakang mereka. Arah yang sama dengan posisi si anjing berbulu perak. Rey memutar badan dan mundur selangkah dengan protektif, berusaha melindungi Mini dari bahaya yang sangat mungkin mengancam. Perasaan waswas meliputi keduanya. Refleks, Rey memegangi taring pemberian si kakek misterius tadi. Dipegangnya erat,berharap taring tersebut memiliki kekuatan mistis yang dapat menguak misteri rumah Juminten Jamu. Atau setidaknya bisa menyelamatkan mereka dari anjing perak yang tiba-tiba bangun dan melangkah ke arah mereka.

Mini mencengkeram tangan Rey erat. Si anjing perak menggeram. Rey mundur teratur. Di dalam hati ia mengutuki Juminten Jamu.

"kemana sih kok nggak nongol juga..Juminten jamu..saya nggak mau digigit doggie ini.." Rey berbisik lirih..Mini semakin merapat ke arahnya. Tiba-tiba dari kegelapan di belakang anjing perak muncul lah sesosok wanita berambut panjang dan baju putih. Rey tersentak kaget. Sekujur tubuhnya dingin seketika. Bulu kuduknya meremang. wanita itu berjalan mendekat. semakin dekat.

"kamu nggak akhan dighighit khog..hihihihi.." wanita itu berbicara masih dalam keremangan. sosoknya yang misterius membuat Rey penasaran, jangan-jangan dia ini si Juminten Jamu. dari cara bicaranya sih sudah mirip. Tapi, ada yang salah dengan hal ini.

“Rey, itu apa..itu yang rambutnya panjang2 itu..yang tadi ngomong..masa itu Juminten Jamu?????” Mini mulai dilanda kepanikan dan mencengeram Rey lebih erat ketika sosok misterius itu makin jelas. Rambutnya panjang se-lantai, bajunya putih, wanita itu tinggi semampai, dan..jalannya agak melambai?? *glek*

Wanita..eh,,iya deh,wanita..wanita yang ternyata sangat jelita itu menyapa mereka ramah sambil memasangkan tali ke leher anjing berbulu silver. “sebentar yha Jeung. Saya nyalain lampu dulu. Monggo pinarak..aduuh makasih yaa udha diibawain bohlamnya..” Wanita itu menghampiri Rey dan mengambil taring tadi dari tangan Rey, membuka mulut si Moli dan memasang taring itu di graham Moli. Setelah itu ia memencet hidung si Moli. Seketika, terang benderang lah ruangan tersebut. Mini terlonjak kaget. Moli memendaran cahaya yang menerangi ruangan tersebut. “jangan kaget, kisanak. Moli ini serbaguna. Selain jadi anjing penjaga, dia bisa juga jadi lampu. Praktis kan?”

Rey dan mini mengangguk takjub kemudian Rey berdeham.

“ehem..jadi, Juminten Jamu..”

“akhu sudha tauh apha yang kalian inginkhan. Yuk marii ikut saya ke ruangan belakhang..capchuss ya bok..” Ujar Juminten sambil berlalu didahului oleh Moli selaku lampu. Rey dan Mini saling berpandangan penuh isyarat. Ikutin-nggak-ikutin-nggak-ikutin aja dehh. Mereka memasuki lapangan upacara. Laboratorium yang tertata sangat berantakan. Di depan mereka,Jumi berhenti dan mengobok-obok tumpukan rongsokan sampai rambutnya nyangkut kemana2 dan kembali menghampiri mereka membawa sebuah kabel USB dan botol cocacola lalu menyerahkannya pada Mini. “minum o..”

Mini mengerenyit. “kalo saya korslet gimana? Kok saya disuruh minum cocacola. Saya tuh makannya beling, bukan cocacola..” Mini menepis halus botol tersebut. Rey yang penasaran apa isi botol itu pun bertanya pada JumJam.

“itu apa,Jum?”

“ini...................cocacola.”

“sama dong sama yang di supermarket..tau gitu saya ke supermarket aja beli sendiri..”

“lho, ja bedha mas Rey. Piye toh iki. Iki cocacola-ne wis tak pendem 1000 tahun. Wis tak campur karo kembang 7 rupa, air 7 mata air tur perjalanane wis uadoooh tenan. Wis ngeliwati 1000 kuto. Wis tak takoni 1000 ati. Nek panjenengan ndak minat, ceriwis yo wiss. Mini ndak jadhi bisa hamilnya.” JumJam mutung. Wajahnya yang catik-nya antik karena mirip kuntiliani,anak kuntilanak itu merengut. Mini pun turut serta dalam perengutan itu. Wajahnya bertekuk-tekuk. Rey panik. Kok jadi dia diambekin 1 orang 1 robot gini sih.

“yaudah-yaudahh..jadi deh. Tapi gimana caranya? Kan ga mungkin Jum kalo si Mini ini disuruh minum itu kokakola.”

Juminten tersenyum penuh arti. Sebelah tangannya mengangkat USB cable dan memberikannya pada Rey. Rey bengong. Mini pasrah. Juminten membuka botol kokakolanya. Ketika terbuka,terciumlah semerbak kembang 7rupa, dan setelah itu tercium juga bau..seperti..hm..kuah pempek???

“nah Mini, kamu cobha colokin dhulu USB-nya ke diri kamu..setelah itu, minum Cocacolanya. Nggak akan korslet kok, nanti itu akan melemaskan engsel kamu dhan kamu akan bisa hamil. Serriusss. Percayalah. “ jumi berusaha meyakinkan walau pihak yang diyakinkan nggak yakin sama sekali tapi mau nggak mau nurut –daripada disantet sama JumJam- . Rey mengerenyit sambil membantu Mini menghabiskan ramuan cocacola-nya. Baunya itu looh..nggak nahaaan. Belum sampai habis botol cocacolanya, Mini mengejang. Pandangannya kosong dan tiba-tiba seperti di shut down, ia berhenti.

“jumi! Jumi! Ini kenapaaa??? Mini kenapaa????” Rey phaniiiq.

“tenang, mas Rey. Ngene wae kok yo nganggo panik. Mini bobok. Sebentar lagi juga bangun.” Juminten jamu membereskan botol dan sisa cocacola yang tumpah.Rey masih tetap panik,tapi dia merasa tidak ada gunanya lagi panik. Toh Mini belum juga membuka matanya. 5 menit..10 menit..12 menit..12menit3detik..dan tiba-tiba Mini terbangun, matanya membuka dan diikuti bunyi PLOP yang keras, Mini hilang ditengah asap.

“JUMIII…. MINI KENAPAAA???? MINIIIIII!!!!!!!!!! TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK!!!!!!!!!!!”

“aduuh duuh..mas Rey ini kok yha lebhayy banget tho…” Jumi masuk kekepulan asap, Moli menggeram sambil membuka matanya, menyinari Jumi. Dan jumi membungkuk, mengambil sesuatu dari lantai. Sebuah sosok yang mungil. Dengan rambut sama seperti Mini, dan wajah mirip dengan Mini. Rey speechless. Kakinya lemas seketika. Ia jatuh terduduk.




PERTANYAANNYA: SIAPAKAH YANG DIAMBIL JUMINTEN JAMU????
KIRIMKAN JAWABAN SERTA ALASANNYA DI COMMENT YAAA…ahuahahahahaha…

-TAMAD-

Pantat Tak Bisa Bohong


Si butchi penampilannya cowok banget. Tapi yah pantat gak bisa boong. Hehehe..
Masih ada satu target lho. Tunggu ya?

Tuesday, December 8, 2009

hehe..




I tell ya.. Don’t drink..

Monday, December 7, 2009

Absurd & Murah Senyum


Image diambil dari sini.

Thursday, December 3, 2009

No More Life (Sedoso)

"Baiklah kalo begitu! Semua syarat akan saya penuhi," Rey menyanggupi. Sesaat ada angin kecil mengelus tengkuknya. Bulu kuduk Rey berdiri. Seperti telah melakukan perjanjian dengan setan.
"Hi hi hi hi hi..." tawa Jumi misterius lalu sambungan telephon tertutup.
Rey memutuskan untuk pulang setelah itu. Mini sempat heran melihat Rey pucat setelah mengakhiri percakapan dengan Juminten Jamu.
"Yakin dengan keputusanmu Rey?" tanya Mini dan hanya di balas dengan tatapan kosong Rey.

Seminggu...

"Rey...kamu tambah pucat! Kamu kurang tidur ya?" Mini memperhatikan lingkaran hitam di sekitar mata Rey. Kontras sekali dengan kulitnya yang memucat.
"Seminggu ini banyak kejadian aneh Mini! Seperti ada yang mengikuti aku. Bruno juga akhir-akhir ini gelisah. Seperti ada orang asing yang selalu memperhatikan aku."
"Hmmm...mungkin karena kamu terlalu memikirkan project robot baru di Divisi. Kadang terlalu lelah bisa berhalusinasi yang enggak-enggak Rey. Oia, kamu sudah hubungi Juminten Jamu lagi?"
"Belum, coba sekarang aku hubungi dia!" Rey mencopot telinga Mini.

Lingsir wengi slirahmu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet...

Rey begidik denger ring back tone Juminten. "Kenapa ganti menakutkan gini?" pikir Rey
"Mas Rey my maaaaaan!!! Ghimana khabare Mas?"
"Baek Jum! Gimana perkembangannya Jum?"
"Buereeees Mas! Ndak perlu khawatir. Tapi saya butuh Mini dhan Mas Rey dathang. Saya udah siapkan indhung telur buat dikombinasikan gen-gennya dengan struktur pembentuk Mini. Telur itu harus masuk inkubator yang saya cangkokkan ke tubuh Mini seperti yang saya jhelaskan sebelumnya itu mas. Saya yakin 100% berhasili. Dan Mas Rey harus..."
Sekali lagi bulu kuduk Rey meremang mengingat perjanjiannya dengan Jumi. Kata-kata Jumi hampir tak didengarnya sampai Jumi ngomong, "Mas Rey ndak boleh ingkar! Kecuali Mas Rey mau celaka..."
"Kapan kami musti kesana Jum?"
"Malam Jumat Legi mas, besok!"
"Kenapa musti malem Jumat Legi?"
"Ndak usah banyak tanya deh mas! Siapin ayam cemani, minyak seribhu bhunga, dhan sejumput tanah dari depan rumah mas Rey! Saya tunggu mas!" telphon pun ditutup.
Rey semakin bingung dengan persiapan yang musti dibawa. Mencoba mencari benang merah antara bayi robot pesanannya dengan ayam cemani. Tapi dia mencoba menerima, mengingat Jumi adalah tukang Jamu yang cukup eksentrik di masanya.

Besoknya Rey menuju kediaman Jumi. Agak terpencil dan Rey lupa persisnya. Masih sore saat itu, mobilnya diparkir di depan balai desa yang kurang terawat. Rey dan Mini memutuskan jalan kaki dari sana. Dari seberang tampak kakek-kakek mendekat menghampiri mereka berdua. Rey berhenti melangkah. Membeku di tempatnya. Rey merasa kakek itu membaca pikirannya. Jarak mereka sudah dekat sekarang.
"Tindakanmu cukup bijaksana anak muda, tapi sekarang kau sudah terlalu jauh melangkah dan terlalu terlambat untuk membatalkan semua," kata kakek itu yang hampir menyerupai desisan. "Bawalah ini dalam perjalananmu!" lanjut kakek itu. Tanpa menunggu persetujuan Rey, diselipkannya taring kecil yang disematkan di tali dari kulit ke tangan Rey. Kakek itu melirik ke arah Mini sesaat lalu meninggalkan mereka berdua.
"Tapi untuk apa kalung ini Kek?" Rey memutar tubuhnya mencari sosok kakek itu, tapi kakek itu sudah lenyap dari pandangannya. "Semakin aneh saja..." pikir Rey dalam hati. Nggak ada alasan buat kembali. Mereka berdua meneruskan perjalanan. Belum terlalu malam saat itu, tapi kabut mulai turun, dan suasana desa yang sepi ini menjadi semakin mencekam. Suara angin bercampur dengan deritan pohon-pohon bambu yang saling bergesekan. Mini menyalakan lampu sorot di ujung jari telunjuknya, menerangi jalan sempit yang mereka lalui. Mereka nggak tau ada sosok perempuan berambut panjang memperhatikan dari balik rimbunnya pohon bambu kuning. Radar Mini pun nggak menangkap kehadiran makhluk itu.
"Mini, coba cari tau apa benar ini jalan menuju kediaman Jumi? Dan lihat apa kita di posisi yang benar!" perintah Rey, sesaat dia ragu dengan ingatannya. Mata mini mengeluarkan cahaya hijau membentuk garis-garis tipis menampilkan tempat mereka berada, dengan dua titik fokus yang berpendar. "Benar! Sekitar 20 meter lagi dari tempat kita." Rey kembali melangkahkan kakinya. Dirapatkan jaket kulitnya sesaat sesudah dia mengalungkan taring pemberian kakek yang ditemuinya tadi.
Jantung Rey berdetak begitu kencang hingga dia bisa mendengarnya. Mulutnya terasa kering. Dia sudah berdiri di depan pintu rumah Jumi. Catnya sudah kusam tak terurus. Rey mengetuk pintu itu. Dan pintupun terbuka perlahan. Mini menggigit bibir bawahnya. Rey menghembuskan nafas panjang dan gemetar.
Terdengar suara geraman perlahan dari balik pintu yang baru membuka sebagian. Dan saat pintu terbuka lebar Rey melihat sepasang sorot mata yang dingin menatapnya. Mata anjing berbulu keperakan itu menantang tatapan Rey. Hampir menyerupai serigala. Rey menatap gigi-gigi tajam dan air liur yang menetes dari rahang anjing itu. Setelah cukup yakin anjing itu nggak akan menyerang, Rey menggenggam pergelangan tangan Mini dan menggandengnya masuk ke dalam. Ruangan itu pengap, tercium bau balok-balok kayu yang membusuk. Rey berjalan di depan Mini, memutar, menghindari tatapan anjing itu.
"Jum...." panggil Rey pelan. Tengorokannya tercekat.

Monggo yang jadi bintang utama dilanjutkeeeen.....

  © Blogger templates Brooklyn by Ourblogtemplates.com 2008 modified by: Adriel Shakti

Back to TOP